Ketika memilih jadwal kelas, pertanyaan yang biasanya muncul lebih dulu adalah berapa jam seminggu yang dibutuhkan. Padahal kendala sebenarnya hampir selalu konsistensi. Jadwal yang kamu jalani selama tiga bulan tanpa banyak bolong akan mengalahkan jadwal padat yang berhenti di minggu kelima.
Kelas pagi cocok untuk orang yang energinya paling baik di awal hari dan jadwal siangnya mudah bergeser. Belajar sebelum hari benar-benar dimulai membuat kelas jarang tergusur oleh urusan mendadak. Kelemahannya juga jelas: kamu harus bangun lebih awal, dan kalau malam sebelumnya berantakan, sesi paginya ikut berantakan.
Kelas malam lebih ramah untuk pekerja dan mahasiswa karena tidak bertabrakan dengan jam kerja atau kuliah. Risikonya, energimu sudah terpakai sejak pagi, dan rapat atau tugas yang molor gampang memakan jam kelas. Kalau memilih kelas malam, siapkan satu batas yang kamu jaga, misalnya berhenti bekerja lima belas menit sebelum kelas dimulai.
Di antara sesi kelas, latihan tidak harus berbentuk duduk khusus. Menyimak podcast dalam perjalanan, membaca satu artikel pendek saat istirahat, atau menulis tiga kalimat sebelum tidur sudah cukup untuk menjaga bahasa itu tetap hidup. Kalau satu sesi terlewat, jangan menggantinya dengan sesi ganda; cukup kembali pada jadwal berikutnya, karena satu sesi yang hilang tidak merusak apa pun, sedangkan rasa bersalah yang menumpuk sering membuat orang berhenti sama sekali.
Setelah sebulan berjalan, tinjau ulang pilihanmu dengan jujur. Hitung berapa sesi yang benar-benar kamu hadiri, bukan berapa yang kamu niatkan. Kalau angkanya jauh dari rencana, yang perlu diganti biasanya jadwalnya, bukan tekadmu, dan pengajar atau admin kami bisa membantu mencari waktu yang lebih masuk akal.
