Sebelum membahas bunyi satu per satu, ada satu pemisahan yang perlu dipegang: aksen dan kejelasan adalah dua hal berbeda. Aksen Indonesia dalam bahasa Inggrismu bukan kesalahan dan tidak perlu dihapus. Yang perlu diperbaiki hanyalah pola yang membuat lawan bicara salah menangkap kata yang kamu maksud.
Pola pertama adalah konsonan akhir yang menghilang. Dalam bahasa Indonesia, ujung kata jarang ditutup dengan tegas, sehingga hard mudah terdengar seperti har dan list kehilangan bunyi t di ujungnya. Padahal justru bunyi terakhir itu yang sering membedakan makna, misalnya pada car dan card. Latih dengan sengaja menahan sedikit di akhir kata sampai bunyi penutupnya benar-benar keluar.
Pola kedua menyangkut bunyi yang tidak punya padanan dalam bahasa Indonesia. Untuk v, gigi atas menyentuh bibir bawah dan pita suara bergetar, sedangkan f memakai posisi yang sama tanpa getaran; letakkan jari di leher dan rasakan bedanya saat mengucapkan very dan ferry. Untuk bunyi th pada think, ujung lidah keluar sedikit di antara gigi, bukan menempel di belakang gigi seperti ketika kamu mengucapkan tink.
Pola ketiga adalah tekanan kata, dan inilah yang paling sering diabaikan. Bahasa Inggris menonjolkan satu suku kata lebih kuat daripada yang lain, dan menaruh tekanan di tempat yang salah bisa membuat kata terdengar asing sama sekali. Beberapa kata bahkan berganti fungsi karenanya: PREsent sebagai kata benda dan preSENT sebagai kata kerja. Biasakan mencatat letak tekanannya setiap kali kamu menyimpan kata baru.
Pola keempat adalah akhiran -ed, yang punya tiga bunyi dan bukan satu. Setelah bunyi tak bersuara seperti k, p, s, dan f, akhirannya berbunyi t, seperti pada worked. Setelah bunyi bersuara seperti vokal, l, atau n, akhirannya berbunyi d, seperti pada called. Hanya setelah t atau d akhiran itu menjadi suku kata tersendiri, seperti pada wanted dan needed.
Cara latihan yang paling murah sekaligus paling jujur adalah cermin dan rekaman. Ucapkan beberapa kalimat sambil memperhatikan mulutmu di cermin, lalu rekam dan dengarkan kembali tanpa buru-buru menilai. Rekaman akan menunjukkan hal yang tidak kamu sadari ketika sedang berbicara, dan mengerjakan satu pola saja setiap minggu jauh lebih berhasil daripada mencoba memperbaiki semuanya sekaligus.
